Lompat ke isi utama

Berita

Sinergitas bukan Pilihan, melainkan Kebutuhan untuk Demokrasi

Sinergitas untuk Demokrasi

Penguatan Kelembagaan Bawaslu: Sinergitas untuk Demokrasi

"dimasa Non-Tahapan bagusnya Bawaslu bikin apa?" kira-kira seperti itu pertanyaan yang kembali terbersit dipikiran saya dalam perjalanan menuju kegiatan Bawaslu kali ini yang mengusung Tema "Penguatan Kelembagaan: Sinergitas Bawaslu bersama Pemangku Kepentingan dalam memperkuat Demokrasi di Kota Manado. 

Saya datang ditengah cuaca mendung namun terasa cukup panas hari itu. Sesampainya di ruang kegiatan, aroma kopi dan aneka kudapan telah tersedia. Di sana, para tamu berdatangan: perwakilan partai politik, aktivis organisasi kepemudaan, akademisi, hingga media dan pers yang biasanya sibuk mewartakan berita. Semua terlihat antusias, seperti rombongan keluarga yang akhirnya bisa duduk bersama untuk membahas satu soal penting: bagaimana Pemilu bisa berjalan bersih, terkoneksi satu sama lain, dan lebih baik.

Ketua Bawaslu Manado, Brilliant J. Maengko yang hadir, membuka acara dengan kalimat sederhana, namun kuat: “Bawaslu Manado butuh masukan dari pemangku Kepentingan (Stakeholder) karena bukan hanya Sinergitas yang kami bangun tapi juga kehadiran Bawaslu dimasa Non-Tahapan ini ingin kami nyatakan ditengah-tengah Masyarakat.” "Bahwa Bawaslu terus bekerja jauh sebelum masa Tahapan Pemilu berlangsung." Ada senyum singkat yang menenangkan di wajahnya. Saya menangkap ada harapan yang bisa diraba publik, bukan sekadar disampaikan lewat gelegar Pengeras Suara didalam ruangan.

Dari sana, obrolan bergulir ke sesi diskusi. Narasumber menyuguhkan pandangan tentang bagaimana Pengawasan Pemilu lahir dari Masyarakat. "dengan jumlah Pengawas yang terbatas Bawaslu harus bergerak bersama Masyarakat, karena itu perlu Inovasi dan masyarakat perlu pemahaman Kepemiluan yang cukup untuk dapat berpartisipasi secara optimal dalam Pengawasan."  pungkas Alfitra Salam dari Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI), salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut. Respon ini, bagi beberapa orang, terdengar berat. Namun suasana di ruangan terasa berbeda: ada nada percaya diri, ada semangat solusi yang menggema.

Sinergitas untuk Demokrasi

Lalu dari Narasumber lainnya yaitu Aria Bima, Anggota Komisi II DPR RI, melalui daring mengungkapkan Apresiasinya terhadap kegiatan ini. "Komisi II mendukung Penuh Pendekatan Partisipatif dalam Pengawasan Pemilu." ungkapnya, sebelum terlebih dahulu izin undur diri dari forum diskusi. Senada dengan hal tersebut, Salah Satu Narasumber lainnya, Agustian Raharjo yang akrab disapa Jojo Raharjo, pada gilirannya mengungkapkan Apresiasi secara Khusus kepada tim Pengelola Media Sosial Bawaslu Manado. "saya mengapresiasi Tim Pengelola atau Admin Media Sosial Bawaslu Kota Manado yang telah menghasilkan ragam konten di Media Sosial yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat khususnya di Kota Manado. Selain itu, Jojo Raharjo juga mengungkapkan bahwa perlunya mendorong lagi "eksistensi" Bawaslu Kota Manado di mesin pencari internet untuk lebih memudahkan masyarakat mendapatkan informasi-informasi ke-Pemiluan dari Bawaslu Kota Manado. Tentunya ini menjadi PR tersendiri bagi Tim Pengelola Media Sosial di Bawaslu Manado namun dampaknya akan sangat signifikan dalam mendorong Literasi Digital Kepemiluan di Kota Manado.

Anggota Bawaslu Manado, A. Gafur Subaer menegaskan bahwa inti dari rangkaian kegiatan Penguatan Kelembagaan yang telah berlangsung dalam beberapa pekan belakangan ini adalah salah satunya mengevaluasi apa yang telah terselenggara di Pemilu Kemarin. "Kita evaluasi, Kita jadikan kekuatan bagi Penyelenggara Pemilu supaya nanti banyak hal sudah terbangun karena sudah terlaksana di masa Non-Tahapan kali ini sehingga tidak menumpuk di masa Tahapan Pemilu." Pungkasnya. Menutup Giat kali ini, Anggota Bawaslu Kota Manado, Heard Runtuwene mengungkapkan harapannya dengan tulus. "Kegiatan ini haru memberi Dampak bagi Demokrasi khususnya dalam Pelaksanaan Pengawasan Pemilu kedepannya" Tegasnya.

Kesan yang ditangkap dari kegiatan ini, secara tidak langsung bisa menjawab pertanyaan yang saya  diatas soal kerja-kerja Bawaslu di masa Non-tahapan. Pemilu memang masih lama akan digelar, itu benar. Namun, banyak hal perlu dipersiapkan sebelum waktunya tiba. Agenda Evaluasi untuk melihat apa yang kurang dan apa yang sudah baik di Pemilu 2024 lalu wajib untuk dilaksanakan. Evaluasi, Masukan dan Dampak adalah tiga hal yang digaris bawahi dalam pertemuan kali ini karena Penguatan Kelembagaan bukan karena Bawaslu lemah, melainkan karena kami sadar bahwa situasi terus berkembang sehingga tantangan dan kebutuhan masyarakat terhadap Pemilu yang demokratis dimasa mendatang perlu terus dijaga.     

lebih dari sekadar formalitas, adalah rasa memiliki pada proyek ini. Mereka melihat acara ini sebagai titik balik, bukan sekadar ritual tahunan. Seorang aktivis antikorupsi berujar singkat namun berbekas: “Kalau publik bisa melihat jalur prosedur berjalan adil, kepercayaan akan tumbuh.” Ada pula seorang perwakilan partai yang menekankan perlunya kejelasan mekanisme komunikasi agar kampanye tetap sehat dan adil. Suara-suara itu tidak menilai satu pihak baik atau buruk, melainkan menata kolaborasi agar pemilu selanjutnya bisa berjalan lebih damai dan terukur.

Saat acara berakhir, beberapa peserta kembali ke ruitnitasnya masing-masing dan kalau ditanyakan bagaimana kesimpulan hari ini, jawabannya sederhana: ada harapan nyata. Penguatan kelembagaan ini terasa seperti jembatan yang dibangun dengan tangan manusia biasa, tetapi untuk Cita-cita besar bernama Demokrasi. Jembatan itu menghubungkan Bawaslu, pemerintah kota, aparat keamanan, pemangku kepentingan, dan tentu saja warga. Tujuannya satu: membuat pemilu di Kota Manado tidak hanya berjalan, tapi juga dirasakan adil dan transparan oleh semua kalangan.

Penutup cerita ini bukan soal acara selesai, melainkan bagaimana langkah selanjutnya akan mengubah cara kita melihat Pemilu: bukan sekadar kompetisi antara kandidat, melainkan kolaborasi untuk memastikan prosesnya berjalan bersih, terbuka, dan manusiawi. Dan jika ada satu pesan yang ingin disampaikan, itulah yang disuarakan para peserta: sinergitas bukan pilihan, tapi kebutuhan agar Demokrasi kita tetap hidup.

Penulis dan Foto: El Junanda

Editor: A. Gafur Subaer