Ketika Lembaran Informasi Berproses Menjadi Cerita Keterbukaan
|
manado,bawaslu- Bawaslu Kota Manado, yang pada keseharianya sibuk menata Pengawasan Pemilu di tengah keramaian kota, tiba-tiba menapaki sebuah panggung yang lebih besar: Anugerah Keterbukaan Informasi Publik Bawaslu 2025. Malam itu, lampu-lampu panggung menyala dengan lembut, seolah-olah mengundang setiap kata yang akan lahir dari panggung kecil namun penuh arti itu.
Kisah berawal dari proses panjang yang berjalan di balik layar. Penilaian untuk predikat Informatif tidak lahir dalam satu hari. Ia tumbuh melalui tahap-tahap yang saling menguatkan: monitoring dan evaluasi, lalu lanjut dengan sesi wawancara yang dilakukan lewat zoom, menyatukan pewawancara dari Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia dengan Bawaslu RI. Sebuah dialog yang tidak sekadar menguji, melainkan menegaskan bagaimana layanan keterbukaan informasi kepada publik bisa berjalan mulus di era digital.
Pada tanggal 16 September 2025, malam itu pun menyuguhkan sebuah momen istimewa. Pembukaan kegiatan dibawakan oleh Dr. Puadi, sosok yang selalu menjaga nada formal sekaligus hangat sebagai Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Data & Informasi. Suaranya mengalun, mengantar para hadirin ke dalam suasana reflektif tentang betapa pentingnya sebuah informasi yang tidak hanya ada, melainkan mudah diakses dan dipahami publik.
Di antara para peserta dari 15 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Utara, tiga nominasi mencuat: Bawaslu Kota Manado, Bawaslu Kota Bitung, dan Bawaslu Kabupaten Minahasa Utara. Dari tiga nama itu, akhirnya Kota Manado berdiri sebagai penerima penghargaan Anugerah Keterbukaan Informasi Publik Bawaslu Kabupaten/Kota dengan predikat Informatif. Penghargaan diserahkan langsung kepada Brilliant J. Maengko, Ketua Bawaslu Kota Manado, seolah menjadi simbol
bahwa kerja keras yang terjalin di antara seluruh elemen kelembagaan telah membuahkan hasil yang nyata.
"Menghadapi tantangan mempertahankan predikat Informatif dari tahun sebelumnya bukanlah perkara mudah," kata Brilliant dengan nada penuh syukur. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan kerja satu orang atau satu divisi saja, melainkan buah dari kerja kolektif semua pihak yang terlibat. Itulah cerita di balik layar, ketika sebuah kota kecil di kawasan timur Indonesia mampu menjaga pintu informasi tetap terbuka lebar bagi warganya.
Kisah malam itu tidak berhenti pada seremoni penghargaan. Di balik panggung, Dr. Bachtiar, Koordinator Tenaga Ahli Bawaslu RI, menyampaikan pesan penting: transformasi data dan informasi bukan sekadar slogan, melainkan fondasi bagi masa depan pengawasan yang lebih akurat dan efektif. Ia mengingatkan bahwa ke depan, pekerjaan pengawasan Bawaslu harus berbasis data—sebuah arah yang meneguhkan kepercayaan publik melalui informasi yang jelas, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Malam itu, cerita tentang keterbukaan informasi bukan sekadar daftar nilai atau predikat. Ia menjadi kisah tentang bagaimana sebuah institusi mencoba menyehatkan komunikasi dengan publik, bagaimana data bertransformasi menjadi cerita yang mudah dipahami, dan bagaimana kolaborasi antarlembaga menguatkan fondasi kepercayaan. Kota Manado pun menuliskan bab baru dalam catatan keterbukaan informasi publiknya, sebuah bab yang tentu akan dibacakan lagi dan lagi di masa depan—sebagai pelajaran bahwa transparansi adalah perjalanan panjang yang terus dijalani bersama-sama.
Penulis dan Foto: El Junanda dan Brilliant Maengko
Editor: A. Gafur Subaer