Home » Opini » [OPINI] LAGI, Soal Peran Tokoh Agama dalam Pilkada ! – Taufik Bilfaqih

[OPINI] LAGI, Soal Peran Tokoh Agama dalam Pilkada ! – Taufik Bilfaqih

Seorang pendeta, berkhutbah di gereja. Dengan gagah ia menyampaikan pesan. “Jemaat sekalian. Dalam momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) atau Pemilihan Umum (Pemilu). Ada 4 kategori serangan yang sering muncul. Pertama, serangan udara. Ini didefenisikan sebagai dunia maya. Media sosial dan jejaring internet mulai ramai dengan info-info kampanye, hoaks dan ragam sosialisasi untuk meramaikan ajang kampanye.

Kedua, serangan petang. Semacam gerakan para tim pemenangan yang memanfaatkan waktu petang untuk memberikan materi dalam bentuk apapun demi mendapatkan dukungan rakyat atas calon mereka. Ketiga, serangan fajar. Sama dengan serangan petang. Namun ia dijalankan pada saat sebelum atau sesudah terbit matahari. Tidak lain, ini cara untuk mendapatkan dukungan.

Terakhir, keempat, serangan jantung. Sebuah peristiwa yang menimpa calon atau kandidat setelah melakukan ragam serangan, menghamburkan uang dan harta bahkan berhutang kiri-kanan, namun yang bersangkutan gagal menang. Akhirnya memengaruhi kesehatan dan jantung pun berhenti. Ia bisa tewas tiba-tiba dalam keadaan luka hati.”

Apa yang disampaikan sang pendeta, sungguh adalah potret hari ini. Bahkan dalam khutbah lainnya, ia mengingatkan jemaat, “Jangan sekali-kali kalian marah kepada penguasa yang korupsi. Karena saat mereka kampanye, mereka memberikan uang kepada kita untuk memilih. Tiba masa dia menjabat, maka orientasi awal yang harus dikerjakannya adalah mengumpulkan pundi-pundi materi, baik dengan halal atau tidak, karena harus menggantikan uang yang terkuras untuk membayar rakyat. Dengan kata lain, sesungguhnya Kita sudah lebih awal korup.” tegasnya. Entah pesan yang disampaikan ini masuk ke sanubari jemaat atau tidak, setidaknya, tokoh agama seperti sang pendeta tersebut telah turut berperan menyampaikan misi kebaikan di ajang pesta demokrasi.

Pada catatan Saya sebelumnya menyebutkan, setidaknya ada 3 posisi penting para tokoh agama di momen pemilu atau pikada, menjadi tim doa, juru kampanye dan mediator. Namun, posisi tersebut berada di jalur sebagai pekerja atau petugas para kandidat. Artinya, di saat-saat tertentu, mereka bisa saja tidak netral, karena secara subjektif punya kecenderungan keberpihakan pada golongan tertentu.

Baca: http://manado.bawaslu.go.id/2019/12/peran-tokoh-agama-di-ajang-pilkada-oleh-taufik-bilfaqih/

Saat ini, Kita butuh pemuka agama yang berada di luar jalur. Mereka berkenan menjadi penyampai misi agama yang memadukan antara ajaran dan aturan main pilkada. Mengingatkan kepada ummat untuk secara sungguh-sungguh terlibat dalam kontestasi pilkada namun bukan dalam hal dukung mendukung melainkan menegaskan betapa perjalanan pilkada jangan dikotori oleh semangat permusuhan, kecurangan dan lain sebagainya.

Kita butuh tokoh agama seperti sang pendeta di atas. Serius, benar-benar dibutuhkan !

Mereka tidak hanya kuasa memberikan peringatan dan pecerahan kepada jemaat, melainkan juga kepada para kandidat. Bahkan, tokoh agama seperti itu tak bisa “dibeli” untuk kepentingan meraup suara. Apalagi, tidak sedikit pemuka agama tampil dengan dalil-dalil suci, namun digunakan hanya untuk kepentingan politik praktis semata.

Tokoh agama menjadi tim sukses boleh, tapi memanfaatkan agama untuk kepentingan meraup suara, apalagi dengan cara-cara yang tak sesuai aturan main, maka itu harus di lawan. Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), siap untuk mengawasi semua komponen yang berbuat curang, meski dilakukan para tokoh agama sekalipun, untuk “diadili” dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

negh… !

#Manjo

About Bawaslu Manado

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *